How to Mingle with Geng Emak2

Orang bilang, gw adalah salah satu model "corporate bitch". Agresif, ambisius, dan full of myself.

Lo tau apa yang lebih menyeramkan dari meeting corporate action dan berdebat dengan lawyer lawan atau negosiasi sama strategic partner? Geng orang tua murid, mamak2, emak2. Damn, gw paling takut sama mereka.

Gw belajar mengenai betapa mengerikannya mereka sejak anak gw masuk TK. Dari yang pasif agresif sampai beneran menyerang. Jauh lebih ambisius dan hard core dibandingkan negosiasi di kantor, bahkan sama geng motor. Dan mereka bisa punya cabang dimana2, mulai dari geng sekolah sampe geng yoga, geng nge gym. Dan nuansanya tetep sama, auranya bikin gw speechless.

Gw selalu memilih duduk di pojokan dan ga messing up sama mereka. Karena gw ga tau harus bicara apa. Bahkan di group WA pun sama. Di saat gw berusaha mingle, mereka seakan2 ga membaca komentar gw, walaupun sekedar say hi. Karena gw bukan anggota geng. "Siapa eloooh?"

Kalau bukan di WA group yang gw memang kenal, gw hanya jadi pembaca aja. Tapi tau ga, bahkan di saat gw diem aja, baik secara virtual maupun di komunitas mereka misalnya, gw tau mereka bisik2 menyebut gw "corporate bitch yang merasa dirinya terlalu keren buat gabung sama mereka". Dan walaupun mereka ngomong pakai bahasa Indonesia, tetep aja kaya ada bahasa asing. Jadi basically mereka ga ngerti atau ga give a dxxn sama omongan gw. Karena gw bukan anggota geng. Tamu. Nebeng. Numpang lewat doang.

So here I am, a gladiator in a suit, a corporate bitch yang ga tau gimana cara ngobrol sama sesama emak2. Dan akhirnya gw lebih nyaman dibilang a corporate bitch daripada berusaha mingle sama mereka sambil ga tau harus ngomong apa. At least kalau begini, they will leave me alone, sitting peacefuly in my corner, usually with my book and my music blasting in my ear.

Apa gw happy? Ya enggaklaaah! Di saat gw harus masuk suatu komunitas yang mengharuskan gw mingle tapi lalu dicuekin tanpa tau salah gw apa, that is sucks! Lalu gw milih untuk grouping sama Bapak2, yang lalu juga memandang gw dengan pandangan aneh karena seharusnya gw jadi anggota geng emak2. Dan lagi2 awkward moment. Dan gw berdoa keras ada someone I know from my office, or previous office, or whatever.

Meeting room is my sanctuary. My temple. Where I can be ME. I can be myself tanpa di judge ini dan itu, dan di saat gw slaying the dragon inside the meeting room, the others know that I am doing it. It's my thing. No question asked.

So yeah, it's a lonely word that I am living in.

Comments

Popular Posts