Memaknai Karunia
Apa sih yang paling penting dalam hidup gw? Apa sih yang jadi prioritas dalam hidup?
Beberapa hari ini, gw sering bete. Gw merasa dituduh menggadaikan hati pada yang katanya "most eligible bachelor". Walaupun konon dia sekuat Hercules, kalau buat sekedar nolongin gw dengan soft skill aja nolak,gimana kalau gw butuh dadanya buat bersandar?
Kalau temen jeung cuman dia yang paling kece, ya gw paham sih kenapa kayanya kenapa jeung takut betul kalau gw deket sama Masbro ini. Enggak jeung, saya akan jaga hati dan setau saya sampe hari ini, hati saya masih dipagerin kok, ga lompat kemana2. Bukan gw ga suka sama dia, bukan dia jelek atau apapun, tapi peer pressure yang seakan2 dengan menggunakan kekuatan kebersamaan memastikan gw buat tidak mendekati dia (padahal ga ada niatan kesana) yang bikin sakit hati. emang gw ga pantes ya menurut kalian? Terlalu obvious tau gak...
Sejak gw ulang tahun, tante gw yang single dan tinggal di kos2an masuk ICU, kakak ipar dari sepupu meninggal dan nyokap ulang tahun juga, gw banyak berpikir sebenernya energi gw yang tersisa itu pantes ga sih gw abisin buat ngelayanin gosipan yang ga jelas itu?
Sepupu gw bilang,"teh, kita sudah tua. Badan kita sudah mulai renta, bahkan jemaripun seakan bicara, menyerah karena lelah. Kita tinggal tunggu giliran".
Kita sama2 single parent, gw by default, sepupu gw cowo (dan belum menikah) yang akhirnya harus membesarkan keponakan cewenya yang sekarang sudah masuk kelas 1 SMP. Warna rambut kita sama2 sudah berubah, kulit kita sama2 sudah meninggalkan tanda kebeliaan> Mata kita sama2 memancarkan rasa lelah, khawatir, perih, sakit, dan bahagia...tempaan sang waktu yang tidak mungkin disiasati, karena itu mata itu cerminan jiwa.
Kita sama2 melupakan apa itu cinta diri. Bahagia buat kita adalah di saat anak, ibu dan saudara2 kita bahagia. Mereka prioritas kita. Karena kita tau, kalau kita sibuk mencintai diri sendiri, dengan keterbatasan kita, ada pihak lain yang harus mengalah. Dan apa yang mereka bisa tanpa kita?
Ikhlas...walaupun mata ini tidak pernah kering dari air mata. Dalam keheningan malam, menetes perlahan, di saat pintu langit terbuka bagi kami yang serba kekurangan untuk bicara. Meminta kepada Allah agar dibukakan pintu ridzki, kebahagiaan, kesehatan dan usia yang panjang buat keluarga kami. Dan berharap jika masih ada sisa karunia, buat kami sendiri.
Semoga Allah membukakan jalan untuk kami.
Hanya yang terbaik.
Beberapa hari ini, gw sering bete. Gw merasa dituduh menggadaikan hati pada yang katanya "most eligible bachelor". Walaupun konon dia sekuat Hercules, kalau buat sekedar nolongin gw dengan soft skill aja nolak,gimana kalau gw butuh dadanya buat bersandar?
Kalau temen jeung cuman dia yang paling kece, ya gw paham sih kenapa kayanya kenapa jeung takut betul kalau gw deket sama Masbro ini. Enggak jeung, saya akan jaga hati dan setau saya sampe hari ini, hati saya masih dipagerin kok, ga lompat kemana2. Bukan gw ga suka sama dia, bukan dia jelek atau apapun, tapi peer pressure yang seakan2 dengan menggunakan kekuatan kebersamaan memastikan gw buat tidak mendekati dia (padahal ga ada niatan kesana) yang bikin sakit hati. emang gw ga pantes ya menurut kalian? Terlalu obvious tau gak...
Sejak gw ulang tahun, tante gw yang single dan tinggal di kos2an masuk ICU, kakak ipar dari sepupu meninggal dan nyokap ulang tahun juga, gw banyak berpikir sebenernya energi gw yang tersisa itu pantes ga sih gw abisin buat ngelayanin gosipan yang ga jelas itu?
Sepupu gw bilang,"teh, kita sudah tua. Badan kita sudah mulai renta, bahkan jemaripun seakan bicara, menyerah karena lelah. Kita tinggal tunggu giliran".
Kita sama2 single parent, gw by default, sepupu gw cowo (dan belum menikah) yang akhirnya harus membesarkan keponakan cewenya yang sekarang sudah masuk kelas 1 SMP. Warna rambut kita sama2 sudah berubah, kulit kita sama2 sudah meninggalkan tanda kebeliaan> Mata kita sama2 memancarkan rasa lelah, khawatir, perih, sakit, dan bahagia...tempaan sang waktu yang tidak mungkin disiasati, karena itu mata itu cerminan jiwa.
Kita sama2 melupakan apa itu cinta diri. Bahagia buat kita adalah di saat anak, ibu dan saudara2 kita bahagia. Mereka prioritas kita. Karena kita tau, kalau kita sibuk mencintai diri sendiri, dengan keterbatasan kita, ada pihak lain yang harus mengalah. Dan apa yang mereka bisa tanpa kita?
Ikhlas...walaupun mata ini tidak pernah kering dari air mata. Dalam keheningan malam, menetes perlahan, di saat pintu langit terbuka bagi kami yang serba kekurangan untuk bicara. Meminta kepada Allah agar dibukakan pintu ridzki, kebahagiaan, kesehatan dan usia yang panjang buat keluarga kami. Dan berharap jika masih ada sisa karunia, buat kami sendiri.
Semoga Allah membukakan jalan untuk kami.
Hanya yang terbaik.

Comments
Post a Comment