You Can't Hurry Love

Gw hanya manusia biasa, yang kadang ga tau apa yang sebenernya gw mau. Lebih gampang buat menentukan apa yang terbaik buat company gw, atau klien2 scoliosis gw, daripada buat buat diri sendiri.

Satu saat, gw yakin banget ga perlu ada significant other dalam hidup gw.  Bahwa yg wajib gw punya adalah buku manual gimana cara buat jadi orang sukses, jadi tinggal tau manggil jasa service yang gw butuhkan, mulai dari handyman, tukang  pijit, sampai tukang bersih2 rumah dan seterusnya. Gw yakin banget bhw kebutuhan punya gebetan itu bisa diatasi dengan adanya tongsis, uber atau mamang Gojek. Jadi kenapa susah kalau rahasia hidup bahagia ada di aplikasi yg tinggal install aja.
 
Tapi ada saat dimana saat gw liat foto2 fb dan path temen2 yg "terlihat" bahagia baik berdua maupun dengan senyum cemerlang ala2 perfect family, ada rasa jleb jleb yg pelan2 menyayat hati. Perasaan gw udah menyebar issue right issue diri sendiri udah sekian lama, masih belum ada juga stand by buyer. "Kenapa gw ya ga bisa ya? Apa gw kurang cantik? Kurang pintar? Kurang sukses? Kurang langsing?". Nunggu apa lagi? Ya ga taulaaah.

Beberapa bulan lalu, gw meet up sama temen lama di Singapore. Lalu dia bilang, gw sebaiknya mulai mencoba aplikasi perjodohan yang sedang heits akhir2 ini. So akhirnya gw cobalah aplikasi dodol itu. Ada satu orang yang akhirnya gw pilih hanya karena profile picturenya foto secangkir kopi yang kayanya enak. Kita ketemuan (nothing happen, hanya ngobrol doang dan dia terus lanjut meeting sama temennya). Dan ga lama kemudian dia mulai manggil gw sayang, baby dan sebagainya. Uuugh, you've gotta kidding me!!

The most important thing of a project is how to accomplished it. Kata Phil Collins, you can't hurry love. Kata Afgan, kalau jodoh takkan kemana. Jadi plis plis plis stop pushing gw buat jawab sekarang gw sama siapa dan kapan gw mulai cari cowo yang normal. Mungkin hidup seperti ini yang normal buat gw, nunggu kapan pasien terakhir pulang buat curi waktu diskusi strategi operasi scoliosis klien2 gw. Atau terus kerja ga kenal waktu karena hal itu bikin gw merasa kaya sedang nari balet diatas kertas. Who knows?

Jadi ga penting mau berapa lama gw nunggu, yang penting suatu hari nanti love will find a way.  

PS: Someone told me out of an unhealthy competition that this guy is gay, so I better stay away from him. I really find it hard to believe that they both are really big fishes on the pond. Especially when the other guy has no interest on me.




“To wait. This was the first lesson I had learned about love. The day drags along, you make thousands of plans, you imagine every possible conversation, you promise to change your behavior in certain ways -- and you feel more and more anxious until your loved one arrives. But by then, you don't know what to say. The hours of waiting have been transformed into tension, the tension has become fear, and the fear makes you embarrassed about showing affection.”
― Paulo Coelho, By the River Piedra I Sat Down and Wept



Comments

Popular Posts