Carpe Diem
Being a single mother teaches you how to make the best of any given moment. Buat orang yang bener.
Kalau buat gw, ya pastinya chaos dimana2. Baju berserakan, kamar berantakan, setiap pagi lompat dari tempat tidur, mandi dan dandan wuuuz wuuuz wuuuz lalu lari ke bawah, kiss my mom goodbye sambil teriak2 panggil nama anak gw. Anak gw pasti udah mandi, breakfast, tapi terus numpang merem lagi kaya ulet kasur di kamar emak gw.
Di era digital ini, gampang banget buat orang judging hanya berdasarkan foto2 yang berseliweran di sosmed. Yang jadi Ibu Rumah Tangga mengeluh, katanya orang ga menghargai statusnya sebagai house wife, katanya berat bener jadi supir, guru, koki, tukang beres2 rumah, dan masih banyak lagi. Enak bener wanita yang tau berangkat pagi, ninggal anak sama nanny, bisa dandan suka2, punya supir, bisa gaul dan lain2. Lalu yang wanita karir ga mau kalah, nulis lagi segala keluh kesahnya. Sampai akhirnya jadi trending topic, bahwa semua wanita itu sama, pengen dihargai.
Pernah ga terpikir bahwa ada wanita yang melakukan semua itu dan ga ada endorsement dari siapapun? Seakan2 semua itu sudah menjadi kewajibannya, sudah menjadi garis tangan? Hanya dia dan Tuhan yang tau rasanya. Semua itu jadi awakening buat gw, bahwa semua orang punya ups and down. Bahwa semua orang punya kelebihan dan kekurangan.
Buat gw, hal yang membuat gw bahagia itu sederhana aja. Bisa cium kepala anak gw, bisa jalan gandengan tangan di mall, ketawa2 ga penting sambil ngopi berdua. Bisa lari pagi ditemenin anak gw yang nunggu di Starbucks, itu adalah golden moment buat gw. Bahkan di saat kita berantem sambil teriak2, setelah selesai kita berdua ketawa2 lagi. Karena kita saling mengerti. Dalam artian yang sesungguhnya.
We are soulmate. We are destined for each other. Dia segalanya buat gw. She is my everything.
Walaupun kita jauh secara fisik dan jarang ketemu, dia tau gw sayang banget sama dia. Bahwa gw akan lakukan apa aja biar dia bahagia. Dan ada satu hal yang sampai sekarang belum bisa gw kasih, padahal dia pengeeen banget...dia pengen punya daddy.
She said,"mom, you know that I am longing to have a dad. I have a father but not a dad. A dad is someone who will hold my hands and won't let go. Someone who will make a fuss about the boys, my health and missing me when I am away from him. Someone who will proudly announce me as his daughter even though I am not and laughed his heart out when his peers teasing him about that. Kita akan kerjain mama, and you will definitely die".
Someday, you will find him, my love. Perhaps not as my husband or boyfriend, but you will find a good loving guy, who will proudly say..."she is mine".
DNA doesn't make a family, love does.
Kalau buat gw, ya pastinya chaos dimana2. Baju berserakan, kamar berantakan, setiap pagi lompat dari tempat tidur, mandi dan dandan wuuuz wuuuz wuuuz lalu lari ke bawah, kiss my mom goodbye sambil teriak2 panggil nama anak gw. Anak gw pasti udah mandi, breakfast, tapi terus numpang merem lagi kaya ulet kasur di kamar emak gw.
Di era digital ini, gampang banget buat orang judging hanya berdasarkan foto2 yang berseliweran di sosmed. Yang jadi Ibu Rumah Tangga mengeluh, katanya orang ga menghargai statusnya sebagai house wife, katanya berat bener jadi supir, guru, koki, tukang beres2 rumah, dan masih banyak lagi. Enak bener wanita yang tau berangkat pagi, ninggal anak sama nanny, bisa dandan suka2, punya supir, bisa gaul dan lain2. Lalu yang wanita karir ga mau kalah, nulis lagi segala keluh kesahnya. Sampai akhirnya jadi trending topic, bahwa semua wanita itu sama, pengen dihargai.
Pernah ga terpikir bahwa ada wanita yang melakukan semua itu dan ga ada endorsement dari siapapun? Seakan2 semua itu sudah menjadi kewajibannya, sudah menjadi garis tangan? Hanya dia dan Tuhan yang tau rasanya. Semua itu jadi awakening buat gw, bahwa semua orang punya ups and down. Bahwa semua orang punya kelebihan dan kekurangan.
Buat gw, hal yang membuat gw bahagia itu sederhana aja. Bisa cium kepala anak gw, bisa jalan gandengan tangan di mall, ketawa2 ga penting sambil ngopi berdua. Bisa lari pagi ditemenin anak gw yang nunggu di Starbucks, itu adalah golden moment buat gw. Bahkan di saat kita berantem sambil teriak2, setelah selesai kita berdua ketawa2 lagi. Karena kita saling mengerti. Dalam artian yang sesungguhnya.
We are soulmate. We are destined for each other. Dia segalanya buat gw. She is my everything.
Walaupun kita jauh secara fisik dan jarang ketemu, dia tau gw sayang banget sama dia. Bahwa gw akan lakukan apa aja biar dia bahagia. Dan ada satu hal yang sampai sekarang belum bisa gw kasih, padahal dia pengeeen banget...dia pengen punya daddy.
She said,"mom, you know that I am longing to have a dad. I have a father but not a dad. A dad is someone who will hold my hands and won't let go. Someone who will make a fuss about the boys, my health and missing me when I am away from him. Someone who will proudly announce me as his daughter even though I am not and laughed his heart out when his peers teasing him about that. Kita akan kerjain mama, and you will definitely die".
Someday, you will find him, my love. Perhaps not as my husband or boyfriend, but you will find a good loving guy, who will proudly say..."she is mine".
DNA doesn't make a family, love does.







Comments
Post a Comment